Tradisi Maleman; Penyambung Keluarga Jauh

Share This Post
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PAMEKASAN, Jatimexplore.net – Malam ganjil di sepertiga akhir Ramadan adalah masa yang sangat diistimewakan oleh sebagian masyarakat Madura. Sebab, di Madura ada sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Madura yang disebut dengan maleman. Sebenarnya maleman bukan hanya di Madura, masyarakat Jawa juga ada tradisi maleman, meski dengan model yang berbeda. Bahkan mungkin tradisi maleman ini berasal dari Jawa.

Maleman adalah sebuah tradisi yang biasa dilakukan pada bulan Ramadan. Tradisi ini ini dilakukan secara turun temurun, entah siapa yang memulai pertama kali. Biasanya dilakukan pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir meliputi tanggal 21 sampai tanggal 29 bulan Ramadan.

Maleman berasal dari kata dasar malem yang artinya malam. Setelah mengalami afiksasi, kata malem menjadi maleman. Maleman berarti malam yang merujuk kepada peringatan hari tertentu. Menurut KBBI, maleman adalah selamatan atau kenduri pada malam tanggal ganjil pada bulan Puasa (Ramadan) tanggal 20 tibanya Lebaran: pada waktu yang disebut maleman itu penduduk banyak yang mengadakan kenduri.

Definisi tersebut sedikit berbeda jika dibandingkan dengan tradisi yang di daerah. Karena di sini tidak ada kenduri atau ritual khusus pada tanggal itu. Jadi, hanya sebatas saling berbagi masakan antara yang satu dengan yang lainnya.

Setiap desa mempunyai tanggalnya sendiri, tidak sama dengan tanggal desa lainnya. Bagi desa yang sampai pada waktu maleman, biasanya orang-orang—di desa itu–memasak untuk dibagikan kepada tetangga, sanak famili, dan kepada besan yang anaknya sedang bertunangan. Setiap desa berbeda apa yang dimasak: ada yang memasak nasi dan ayam; ada pula yang membuat kolak dan kettan.

Selain untuk selamatan, bagi-bagi masakan dimaksudkan untuk saling mengikat hubungan keluarga yang jauh agar tidak sampai putus hubungan kekeluargaan. Biasanya aneka masakan itu dibagikan pada sore hari yang sekaligus dimakan pada buka puasa oleh tuan rumah.

Kenapa pemilihan waktu jatuh pada tanggal-tanggal ganjil di sepertiga terakhir di bulan Ramadan? Kemungkinan masyarakat meyakini bahwa turunnya malam lailatul qadar ditanggal tersebut, yakni malam yang ditunggu oleh umat Islam. Di malam ini Tuhan akan melipatgandakan amal perbuatan manusia. Malam ini juga biasa disebut malam seribu bulan sehingga masyarakat tidak menyiakan dengan bersedekah.

Jadi artinya, maleman ini sebuah upaya mengingatkan tentang adanya malam lailatul qadar. Karena bagi siapa saja yang beribadah di malam tersebut nilainya akan lebih baik dari pada seribu bulan. Sehingga, dalam sejarahnya, para wali berusaha mengingatkan akan betapa pentingnya malam tersebut melalui budaya yang dikenal dengan maleman.

Dapat disimpulkan bahwa maleman ini adalah malam yang diproyeksikan khusus untuk menyambut malam lailatul qadar. Maleman termasuk dari khazanah nusantara sebagai warisan para wali songo. Maleman juga merupakan sebuah bentuk akulturasi antara Islam dan masyarakat Jawa. Maleman ini adalah pengaplikasian dari hadist nabi yang menyatakan bahwa pada sepuluh hari terakhir diindikasikan sebagai turunya malam lailatul qadar atau malam seribu bulan.

Wallahu a’lam.

Pamekasan, 29 Mei 2019

Penulis: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni M. Pd (Aktifis PMII Pamekasan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *